AGIS

(Foto: Dokumentasi pribadi Bacatara)

“Aku tidak mau sekolah lagi. Aku takut dipukul oleh guru!” Jeritan pagi itu datang dari seorang anak lelaki bernama Agis. Ia sosok yang pendiam. Kamar tidur, dapur, dan sungai di belakang rumah menjadi tempat favoritnya. Semuanya itu sudah menjadi hal yang lazim dijalankannya.

Hari ketiga di bulan Juni, Agis dipaksa masuk sekolah. Ini adalah hari terakhir pengenalan lingkungan sekolah. Ia dan mamanya berdiri di bawah tiang besi yang sudah ditanam. Sekitar sembilan meter dalamnya. Di atasnya berkibar bendera berwarna merah putih.

“Mungkinkah Agis malu dan takut mengenal orang baru?” bisik ibu guru cantik di samping kiri mamanya. Mama tua membalasnya dengan senyuman khas orang timur yang lembut. Ia tidak mengerti sepenuhnya apa yang dikatakan guru itu.

Semua siswa baru bergegas menuju kelas. Agis mendekati mamanya. Kain kusut yang dipakai mamanya pun ia pegang. Mata hampir saja menetes airnya. “Asi di kole ende, eme toe ogo kaku masuk kelas,” bisiknya pelan sebelum bergegas ke kelas. Mama tua mengangguk-angguk. Ia mengiyakannya. Berdiri di bawah tiang bendera dekat kantor sekolah selama empat jam, menatap langkah kaki Agis dari kejauhan. Itulah pekerjaannya siang itu.

Matahari memancarkan sinarnya yang kian terik. Mama tua terus berputar. Memandang ke kiri dan ke kanan sambil mengikuti bayangan bendera. Wajahnya tampak letih, tapi ia tetap bertahan meski bibir dan tenggorokannya kering menahan haus.

Ibu guru cantik keluar dari ruang kelas—tanda pelajaran hari itu telah usai. Agis berlari kencang menuju mamanya. Plastik biru berisi satu buku tulis dan satu pensil ikut berisik diayunkan tangannya. Wajahnya berseri-seri.

Setibanya di rumah, mama tua menyuguhkan sembilan buah pisang masak hasil olahannya pagi tadi. “Ini untukmu, Agis. Sepertinya kau lapar,” katanya lembut. Agis hanya mampu menghabiskan empat buah pisang, lalu menyerahkan sisanya kepada mama. Air mata menetes ke tangannya. Agis menahan tangisan. Ia menatap lantai dan sepatu kusamnya. “Mama masih kenyang, saya sudah makan duluan. Simpanlah untuk makan malam,” kata mama, meski perutnya masih berbunyi menahan lapar.

Lima hari berlalu sejak Agis mulai masuk sekolah. Ia tak lagi diantar. Bangun lebih pagi, berjalan sendiri. Bukan karena tidak ada yang mau menemaninya, melainkan dia tak mau ditemani. Ia juga tak mau didekati siapa-siapa kecuali mamanya. Keduanya sangatlah dekat.

Ujian akhir semester genap pun tiba. Di depan aula sekolah, anak-anak lain berlarian, bercanda, dan tertawa bersama. Agis duduk diam di samping pagar belakang aula. Ia tak tahu harus berbuat apa.

Ibu guru yang dulu mengajarnya di masa MOS maju ke podium membuka acara. Ia kini menjadi kepala sekolah. Dengan tegas ia berkata, “Mulai hari ini, jangan ada yang menggunakan bahasa daerah di lingkungan sekolah.”

Lima siswa dipanggil ke depan—peringkat lima besar. Tepuk tangan riuh menggema. Seorang anak lelaki berpakaian rapi maju pertama, disambut teriakan, “Tian! Tian!” Ia tersenyum percaya diri. Setelah semua nama diumumkan, kelima “pemenang” turun dari podium.

Waktu istirahat lima menit berlalu. Tiba-tiba, nama Agis dipanggil. Ia maju perlahan, bingung. Tatapan sinis mengiringinya. “Kenapa saya dipanggil?” tanyanya polos. Guru kesiswaan mendekat. Sebuah tamparan keras mendarat di pipinya. “Dasar bodoh! Biar semua orang tahu kau memalukan!” bentak guru itu.

“Tidak usah sekolah! Mana bisa orang miskin bersaing dengan kami yang kaya!” teriak seorang siswa. Guru di sampingnya berkata, “Semester ini hanya Agis yang tidak naik kelas.” Ruangan riuh. Beberapa guru lain ikut menatap sinis. Namun Agis berusaha tenang, meski jiwanya remuk.

Di rumah, suasana tak kalah tegang. Pintu kamar dibanting, kertas dan buku berserakan. Mama tua bingung, mencoba menenangkan. Agis akhirnya memeluknya erat, air mata tumpah. “Saya tidak naik kelas, Ma. Saya selalu diperlakukan tidak adil di sekolah. Mengapa kita miskin, Ma? Mengapa kita tidak lahir dari keluarga berada?” Mama hanya diam, menatap anaknya dengan mata basah.

Liburan pun tiba. Agis tak lagi menyentuh buku. Mama tua terus mendorongnya belajar, tapi sia-sia. Semangatnya telah mati. Hari terakhir di bulan Mei, Agis melamar kerja sebagai kuli bangunan. Ia diterima meski tubuhnya kurus. Mereka membangun gereja. Hari ketujuh belas, pastor paroki memanggilnya. “Agis, cukup sudah. Biarkan yang tua melanjutkan,” kata pastor tua itu lembut. Agis bingung, tapi menuruti. Sesampainya di rumah, mama tua menyambutnya dengan senyum lega. Pastor rupanya memenuhi permintaannya agar Agis berhenti.

Malam tiba. Lampu pelita menyala di teras. Mama menghampiri anaknya. “Nana, mama senang bisa berbincang kembali. Minggu depan kita ke sekolah. Mama sudah menemui kepala sekolah. Mereka mau menerimamu lagi. Mereka janji akan menjagamu.”

Agis menunduk. “Saya malu, Ma. Saya takut dipukul lagi. Saya takut dikatakan bodoh. Tapi... saya akan berusaha melawan rasa itu.” Air matanya jatuh lagi. Mama tua memeluknya dengan lembut.

Hari pertama di minggu kedua bulan Juni, Agis kembali ke sekolah. Seragamnya lusuh, tapi wajahnya bertekad. Ia memulai segalanya dari awal. Sedikit demi sedikit ia berubah: bangun lebih pagi, berdoa, belajar disiplin. Tiga minggu kemudian, ia terbiasa bangun pukul empat.

Perjalanan baru itu penuh suka dan duka. Agis mulai rapi, berpikir kritis, dan percaya diri. Saat lomba HUT kemerdekaan, ia menjuarai lomba menulis cerpen. Semua kaget. Tiga tahun berlalu. Agis lulus SMP dengan peringkat keempat. Kini ia duduk di kelas XI SMA Katolik. Tutur katanya tenang, penampilannya berwibawa.

Suatu hari guru Matematika bertanya tentang cita-cita murid. Sebagian besar menjawab: guru, dokter, perawat. Ketika giliran Agis, ia berkata lantang, “Polisi! Supaya bisa memukul orang dan menembak guru yang menyiksa murid.” Kelas hening.

Empat semester berlalu. Waktu pemilihan OSIS tiba. Ada tiga kandidat, Agis salah satunya. Setelah pemungutan suara, ia kalah tiga suara. Tapi ketua OSIS terpilih menunjuknya sebagai wakil II. Ia menerima dengan senyum khas timurnya. Perlahan, sekolah berubah. OSIS aktif menata lingkungan: pagar dicat, rumput dirapikan, tempat sampah ditambah. Enam semester berlalu.

Hari pertama bulan Juni, Agis dan teman-temannya menunggu pengumuman kelulusan. Nama Agis disebut paling terakhir. Baru kali ini. Ia dinobatkan sebagai lulusan terbaik. Dalam pidatonya ia berkata, “Bantu doa untuk saya. Saya berencana mengikuti tes kepolisian. Itu cita-cita saya sejak kecil.” Tepuk tangan menggema.

Empat belas hari kemudian, Agis berbicara dengan mamanya. “Saya ingin jadi polisi, Ma. Itu cita-cita saya.” Mama terkejut. “Polisi? Yang bisa menembak orang? Itu pekerjaan orang kaya, nak. Kita tidak punya apa-apa.” “Itu cuma omongan, Ma. Sekarang negara butuh banyak polisi,” jawab Agis yakin.

“Benar kata Mama,” gumamnya lirih. “Hanya orang kaya yang bisa jadi polisi.”

Hari-hari berikutnya ia berlatih keras. Warga kampung mencibir, “Mana bisa anak miskin jadi polisi.” Ia tidak peduli sama sekali, meskipun ia mendengarnya.

Pendaftaran dibuka. Agis melengkapi berkas dan datang ke polres. Ia meminta bantuan pada seorang lelaki berbaju hitam. “Bisa bantu lihat dokumen saya, Pak?” Lelaki itu diam, lalu pergi. Tak lama, ia keluar lagi dengan seragam polisi lengkap. “Maaf, Pak! Saya tidak tahu!” Agis panik, berlutut, memohon. Tendangan keras menghantam rusuknya. Ia menjerit, tapi lelaki itu berlalu tanpa peduli.

Tes demi tes ia ikuti. Enam kali mencoba, enam kali gagal. “Benar kata mama,” gumamnya lirih. “Hanya orang kaya yang bisa jadi polisi.”

Suatu malam ia pulang tanpa bicara. Pagi harinya ia bangun seperti biasa, berdoa, membaca Alkitab, lalu menyiapkan singkong untuk sarapan. Ketika hendak membangunkan mamanya, tubuh wanita tua itu berlumuran darah. Matanya bengkak, tubuhnya lemas. Agis panik, menggendongnya ke puskesmas. Uang hijau selembar jadi satu-satunya bekal.

Ketika sadar, mama tua berkata lirih, “Saya dipukul enam orang tak dikenal. Satu dari mereka berseragam polisi.” Agis bergegas melapor ke polres. Kapolres berjanji akan menyelidiki. Seminggu berlalu, tak ada kabar. Ia kembali datang, jawaban sama diulang lagi.

Saat keluar dari gerbang, ia menerima panggilan. “Mamamu sudah boleh pulang. Kondisinya membaik,” suara lembut di seberang. Agis tersenyum lega. Ia berjalan cepat menuju puskesmas.

“Mama, saya datang!” katanya girang. Mama tua bertanya pelan, “Agis, engkau di mana?” Belum sempat menjawab, mobil hitam dengan garis putih-biru melaju kencang. Tubuh Agis terpental, darah membasahi wajah dan jalan.

Agis tak bernyawa. Hanya oknum-oknum itu yang tahu apa yang sebenarnya terjadi. Mayatnya pun belum ditemukan.

Catatan:

-Asi di kole ende, eme toe ogo kaku masuk kelas. (Ibu jangan pulang duluan, kalau tidak saya tidak masuk kelas).

-Nana. (Sapaan terbaik untuk anak laki-laki di Manggarai-Flores, NTT).


Penulis






Previous Post

mungkin anda suka

sr7themes.eu.org